CONTOH PENELITIAN CERITA PENDEK

KATA PENGANTAR

 

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat bimbingan dan karunia-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah

yang berjudul “ANALISIS UNSUR INTRINSIK DALAM CERITA TENTANG SEBUAH NAMA” Adapun maksud dan tujuan karya tulis ilmiah ini diajukan untuk memenuhi persyaratan mengikuti Ujian Nasional Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Karya tulis ilmiah ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dari dari berbagai pihak. Dan tentunya akan banyak kekurangan-kekurangan yang didapat di dalam karya tulis ilmiah ini. Tentunya tak lupa kamimengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah  mendukung pelaksanaannya penulisan karya tulis ilmiah ini. Dalam hal ini

yaitu :

1).  Bapak kepala sekolah SMPN 2 PANYINGKIRAN

2).  Bapak A.Ardiprawira S.Pd Atas segala bimbingannya yang telah

diberikan dalam penulisan karya tulis ilmiah

3).  Rekan-rekan yang telah memberikan dukungan.

Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para

pembaca, khususnya bagi siswa-siswi di sekolah kami.

Majalengka,                             2012

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………….  i

HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………….. ii

KATA PENGANTAR………………………………………………………….. iii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………….. iv

BAB 1     PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang………………………………………………………………  1

1.2.         Rumusan Masalah………………………………………………………….  3

1.3.         Tujuan Penulisan……………………………………………………………  3

1.4.         Metode Penelitian…………………………………………………………..  4

1.5.         Kegunaan Penulisan……………………………………………………….. 4

BAB 2      KAJIAN TEORI

          2.1.   Pengertian Cerita Pendek……………………………………………….. 5

2.2.   Pengertian Amanat……………………………………………………….. 10

BAB 3      PEMBAHASAN

3.1.  TENTANG SEBUAH NAMA ……………………………………………..  26

3.2.  Analisis Unsur Intrinsik……………………………………………………….

BAB 4       PENUTUP

          4.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………

4.2. Saran………………………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

BAB I

    P E N D A H U L U A N

 

1.1           LATAR BELAKANG

Cerpen merupakan genre karya sastra yang jauh lebih muda usianya dibandingkan dengan puisi dan novel. Cerpen merupakan cerita pendek

yang hanya mengisahkan satu peristiwa, Awal cerita (opening) ditulis secara menarik dan mudah di ingat oleh pembacanya.

Menurut Edgar Cerpen adalah :

  1. Sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam.
  1. Hal-hal yang harus diperhatikan menurut Edgar dalam penulisan cerpen antara lain:

v Cerpen harus pendek, artinya cukup pendek untuk dibaca dalam sekali duduk.

v Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik.

v Cerpen harus ketat dan padat.

v Cerpen harus tampak sungguhan.

v Cerpen harus memberi kesan yang tuntas.

Menurut Nurgiantoro, cerpen yang panjang disebut novelet.Menurutnya novelet adalah karya sastra yang lebih pendek dari novel,

tetepi panjangnya lebih panjang dari cerpen, dikatakan pertengahan dari keduanya. Didalam menulis cerpen, kita harus bisa membuat pembuka yang baik, tokoh yang hidup, dan juga alur yang menarik.

Unsur intrinsik cerpen adalah:

1. Tema (ide pokok cerita) : tempat meletakkan suatu perangkat (konflik-konflik)
2. Tokoh dan penokohan :
Tokoh dalam cerita berkaitan dengan orang atau sesuatu yang mendapatkan peran dalam cerita tersebut. Tokoh-tokoh tersebut dapat bersifat protagonis (peran baik) dan antagonis (peran tidak baik). Peran-peran tersebut (baik, tidak baik, dan sebagainya) disebut dengan penokohan (karakter).
3. Latar
Latar dapat berupa tempat, waktu, atau keadaan. Dengan demikian, latar (setting) berkaitan dengan tempat cerita berlangsung, kapan terjadinya cerita tersebut, atau dalam keadaan bagaimana cerita tersebut terjadi.
4. Alur/Plot (jalan cerita yang berisi rangkaian peristiwa), meliputi permulaan/pengenalan, pertikaian, perumitan, puncak/klimaks, peleraian, dan akhir cerita.
5. Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam sebuah cerita apakah pengarang terlibat di dalam cerita tersebut atau apakah pengarang berdiri di luar cerita.                                                                                                   6. Amanat (pesan yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita yang dibuat).

Berdasarkan uraian diatas bahwa pentingnya pembahasan ini bagi mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya sastra maka kami membuat

sebuah karya tulis ilmiah yang berjudul “ Analisis unsur intrinsik ” dalam cerita pendek “Tentang sebuah nama ”  Karya : Benny Ramdhani

1.2.   RUMUSAN MASALAH

Adapun permasalahan-permasalahan yang akan kami bahas dalam karya tulis ilmiah adalah sebagai berikut :

  1. Apa yang di maksud cerita pendek ?
  2. Apa yang di maksud dengan pengertian unsur intrinsik ?
  3. Bagaimana isi cerita pendek yang berjudul “Tentang sebuah nama”?
  4. Apa unsur intrinsik dari dalam cerpen tersebut?
  5. Bagaimana analisis amanat dalam cerita pendek “TENTANG SEBUAH NAMA”?

Perumusan masalah di atas merupakan gambaran umum pada karya tulis ini yang dihapkan dapat mewakili esensi dari maksud penulisan ini.

1.3.   TUJUAN PENELITIAN

Kami membuat karya tulis ini dengan maksud agar kami dapat berfikir secara objektif, logis, sistematis dan juga dapat menambah

wawasan ilmu pengetahuan sehingga kami mampu membuat penyelesaian suatu masalah.

Selain tujuan diatas, kami mengharapkan kepada para pelajar yang membaca karya tulis ini agar dapat menumbuhkan rasa membangun

bangsa dengan kreativitas dan kemandirian yang tinggi. Kami juga berharap, khususnya kepada pelajar agar tidak terjerumus kedalam

pergaulan-pergaulan bebas yang menyimpang dari akhlak, khususnya akhlak islami.

1.4.   METODE PENELITIAN

Dalam proses penelitian karya tulis ilmiah ini, Kami menempuh metode sebagai berikut :

-         Library research, yaitu penelitian keperpustakaan dengan mencari

data-data atau keterangan dari berbagai buku yang ada kaitannya dengan masalah yang akan dibahas.

1.5. KEGUNAAN PENELITIAN

Adapun manfaat yang kami harapkan dari penyusun karya tulis

ilmiah ini adalah sebagai berikut :

a)    Untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah.

b)    Lebih mengetahui nilai-nilai moral  kehidupan.

c)    Sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar.

d)    Menumbuhkan kreativitas siswa.

BAB II

KAJIAN TEORI

 

2.1.        PENGERTIAN CERITA PENDEK.

Cerpen termasuk salah satu karya sastra yang berbentuk prosa.Seperti pengertian tentang karya sastra yang lain, selama ini belum adapengertian yang pasti dan memuaskan tentang cerpen. Namun, agar dapat mengenal cerpen dengan lebih baik kita perlu mengetahui beberapa pngertian tentang cerpen yang diperlukan oleh para ahli satra. Paling tidakpengertian-pengertian tersebut dapat membantu kita untuk mengena lbentuk cerpen yang baik, sehingga nantinya kita juga dapat menulis cerpen dengan baik. Berikut ini beberapa pengertian cerpen yang dirangkum dari tulisan Habiburrahman Elshirazy yang berjudul “Mengenal teknikpenulisan cerpen” (http://www.lulukeche.multiply.com).

  1. 1.     Menurut H.B. Jassin

H.B. Jassin, Sang Paus Sastra Indonesia, mengatakan bahwa yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan

penyelesaian.

2. Menurut A. Bakar Hamid

A. Bakar Hamid dalam tulisan “pengertian cerpen” berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banaknya perkataan yang dipakai antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya

satu watak, dan adanya satu kesan.

3. Menurut Aoh K.H.

Aoh K.H. mendefinisikan bahwa cerpen adalah salah satu ragam fiksi atau cerita rekaan yang sering disebut kisahan prosa pendek.

 

4.Menurut Edgar Allan Poe

Dari beberapa buku dan uraian yang layak dijadikan panduan,  cocok menjadi panduan. Pendapat Poe memenuhi kriteria ilmiah secara teoritis

dan secara praktis dapat diaplikasikan. Pendapat Poe, yang dirinci Muhammad Diponegoro dalam bukunya yuk, Nulis Cerpen Yuk,

disederhanakan sebagai berikut :

a). Cerpen harus pendek sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Misalnya, saat menunggu bus atau kereta api, atau saat antre

karcis bioskop. Selain itu, juga harus memberi kesan secara terus menerus hingga kalimat terakhir. Artinya, cerita pendek harus ketat, tidak

mengobral detail. Dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, menjalankan cerita, atau menampilkan permasalahan.

b). Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik. Menurut Poe ketunggalan pikiran dan aksi dapat dikembangkan

lewat satu garis dari awal sampai akhir. Di dalam cerita pendek tidak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa digresi.

c). Cerpen harus ketat dan padat. Setiap detail harus mengurus pada satu efek saja yang berakhir pada kesan tunggal. Oleh sebab itu,

ekonomisasi kata dan kalimatmerupakan salah satu keterampilan yang  dituntut bagi seorang cerpenis.

d). Cerpen harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan atau rekaan. Itulah sebabnya,

dibutuhkansuatu keterampilan khusus untuk menciptakan adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh. Hal itu bertujuan agar mereka

terkesan benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup.

e). Cerpen harus memberi kesan yang tuntas. Tidak lagi mengusik dan menggoda karena ceritanya seperti nasih berlanjut. Kesan selesai itu

benar-benar meyakinkan pembaca bahwa cerita itu telah tamat sampai titik akhirnya. Artinya, tidak ada jalan lain lagi dan cerita benar-benar berhenti di akhir cerpen.

 

  1. Didalam cerpen terdapat tiga jenis yaitu:

a)    cerpen yang pendek atau cerpenpendek, yakni cerpen yang panjangnya berkisar 500-750 kata.

b)    Cerpen sedang, yakni cerpen yang panjangnya berkisar 750-1000 kata.

c)    Cerpen yang panjang, yakni cerpen yang panjangnya berkisar 1000-ribuan kata.

  1. Hal-hal yang harus diperhatikan menurut Edgar dalam penulisan

 

cerpen antara lain:

v Cerpen harus pendek, artinya cukup pendek untuk dibaca dalam sekali duduk.

v Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggaldan unik.

v Cerpen harus ketat dan padat.

v Cerpen harus tampak sungguhan.

v Cerpen harus memberi kesan yang tuntas.

Lebih lanjut, Habiburrahman El Shirazy mengungkapkan bahwa masih banyak sastrawan lain yang merumuskan definisi cerpen. Rumusan-

rumusan tersebut tidak sama persis, juga tidak saling bertentangan satu sama lain. Hampir semuanya menyepakati pada satu kesimpulan bahwa cerita pendek atau cerpen adalah cerita rekaan yang pendek.

Berdasarkan penuturan Habiburrahman El Shirazy di atas, kita dapat memperoleh gambaran singkat tentang pengertian cerpen. Secara tidak

langsung gambaran tersebut juga menyinggung tentang beberapa unsur cerpen, termasuk panjang pendek sebuah cerpan.

Sebuah cerpen merupakan suatu karya yang utuh dan terdiri atas unsur-unsur yang membentuk atau membangun sebuah konstruksi cerita.

Unsur yang membangun cerpen dari dalam disebut unsur intrinsik. Sedangkan unsur yang berada di luar konstruksi namun ikut membangun

sebuah cerpen disebut unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik lebih banyak berhubungan dengan pengarang, seperti budaya, agama, pendidikan dan

lain sebagainya.

CIri-ciri cerpen :

  • Menyajikan peristiwa, pengalaman, atau khayalan dalam bentuk narasi.
  • Bahasa cerpen tajam, sugestif, dan menarik perhatian.
  • Tokoh tang ditampilkan hanya sedikit, berkisar satu sampai tiga orang saja.
  • Menceritakan satu peristiwa atau satu persoalan kehidupan.

 

Klasifikasi cerpen berdasarkan jumlah kata :

  • Cerpen yang pendek (kurang dari 5.000 kata) Short short story.
  • Cerpen (Lebih dari 5.000 Kata) Short story.
  • Cerpen panjang (Lebih dari 10.000 kata) long story.

 

Ciri-ciri penanda cerpen :

  1. Pendek : Berdasarkan bentuk atau jumlah kata.
  2. Padat : Hanya satu Peristiwa.
  3. Padu : Menimbulkan satu efek bagi pembaca.

Unsur intinsik dan ekstrinsik merupakan sebuah kesatuan yang utuh. Keduanya seperti organ-organ yang menyusun tubuh manusia beserta ruh

yang menghidupkannya. Unsur-unsur intrinsik cerpen adala unsur yang membangun cerpen

dari dalam. Saat membaca sebuah cerpen, unsur-unsur tersebut dapat kita temukan secara tersirat maupun tersurat. Unsur-unsur intrinsik cerpen berupa :

v Tema

v Tokoh dan penokohan

v Latar dan pelataran

v Alur dan pengaluran

v Amanat

v Serta sudut pandang pencerita.

 

2.2. PENGERTIAN UNSUR INTRINSIK

          2.2.1. Tema

Setiap cerita (fiksi) yang baik tidak hanya berisi perkembangan suatu pristiwa atau kejadian, tetapi juga menyeratkan pokok pikiran yang akan dikemukakan pengarang kepada pembaca. Itulah yang menjadi dasar, gagasan utama, atau tema cerita. Cerita yang tidak mempunyai tema tentu tidak ada manfaatnya bagi khalayak pembaca.

Sebagai pokok persoalan, tema merupakan sesuatu yang netral dalam tema, boleh dikatakan belum terlihat kecenderungan pengarang untuk memihak. Oleh karena itu, masalah apa saja dapat dijadikan tema dalam cerita atau karya sastra.

Tema dapat menyangkut idaman remaja, kerukunan antar umat beragama, kesetiaan, ketaqwaan, korupsi, pemanfaatan air, atau bahkan kengerian yang ditimbulkan perang.

Cerita dapat menjadi lebih menarik apabila pokok perbincangan itu baru, hangat, atau bercorak lain daripada yang lain. Sebagai contoh, “Penyandang cacat bawaan tidak selamanya menjadi beban masyarakat

“Dan “Kejujuran yang membawa malapetaka”.

Dalam penggarapan tema cerita, akan segera tampak siapa pengarangnya, keluasan pengetahuannya, keperibadiannya, atau latar belakang lingkungan dan pendidikkannya. Tema yang bersahaja dapat menjadi cerita yang bermutu apabila diolah demikian rupa oleh pengarang yang baik. Sebaiknya, tema yang baik bukan jaminan dapat melahirkan cerita yang bermutu jika pengolahannya tidak didukung oleh kemampuan dan daya kreativitas pengarang.

Tema ialah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang dibuatnya. Seorang pengarang harus menentukan tema cerita yang akan dipaparkan kepada pembaca sebelum memulai menulis cerita. Sementara itu, seorang pembaca baru dapat memahami sebuah tema apabila mereka telah selesai memahmi unsur-unsur penting yang membangun cerita tersebut seperti latar, perwatakan, dan nilai-nilai lain yang terkandung dalam cerita tersebut.

2.2.2. Penokohan

Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang penting dalam sebuah cerpen. Setiap cerpen pasti mempunyai tokoh yang diceritakan. Tokoh-tokoh tersebut ditampilkan dengan teknik penokohan.

  1. Tokoh

Istilah tokoh mengacu pada pelaku dalam cerita yang dapat berupa manusia, binatang, dan lain sebagainya. Tokoh dapat dianggap sebagai

individu rekaan yang mengalami peristiwa atau mengambil bagian dan perlakuan dalam berbagai peristiwa yang terjadi di dalam cerita hubungan antar tokoh dapat menghasilkan atau menjalin peristiwa di dalam cerita dapat berdasarkan fungsinya, tokoh di dalam cerita dapat dibagi dua.

  • Tokoh sentral

Tokoh sentral adalah tokoh yang memegang peranan penting sehingga dapat disebut sebagai tokoh utama atau protagonis. Umumnya, tokoh protagonis mempunyai lawan yang disebut dengan tokoh antagonis.

  • Tokoh Bawahan

Tokoh bawahan mempunyai kedudukan yang tidak terlalu penting didalam cerita, tetapi kehadirannya diperlukan untuk menunjang atau mendukung utama. Tokoh bawahan disebut sebagai tritagonis jika berperan mendamaikan konflik yang terjadi antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Sedangkan jika dilihat dari tipenya, ada dua tipe tokoh, yaitu tokoh bulat dan tokoh datar. Tokoh datar bertipenya hanya menunjukan satu segi, baik atau buruk. Sehingga terkesan hitam atau putih sementara tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukan berbagai segi yang baik dan buruk beserta dengan kelebihan maupun kekurangan.

  1. Penokohan

Setiap tokoh dalam cerpen memiliki watak tersendiri yang berbeda

satu sama lain. Watak setiap tokoh tersebut, baik maupun buruk, disajikan dengan teknik penokohan. Dengan demikian penokohan dapat diartikan sebagai cara penggambaran tokoh dalam suatu cerita rekaan. Setiap pengarang tentu mempunyai keinginan agar para pembaca dapat memahami waktu-waktu tokoh yang ditampilkannya di dalam cerpen. Oleh karena itu, setiap pengarang harus memahami metode penyajian tokoh ada dua penyajian tokoh yaitu sebagai berikut.

  1. Metode analitik atau langsung

Dengan metode analitik, pengarang dapat memaparkan waktu tokohnya dengan dekskripsi langsung secara naratif, atau dapat juga menambahkan komentar tentang watak tokoh tersebut.

Selain itu, pengarang dapat mengisahkan sifat-sifat hasrat, fikiran, maupun perasaan tokoh melalui penceritaan, pengisahan trsebut dapat disertai dengan komentar yang berupa pernyataan setuju atau tidak terhadap sifat-sifat tokoh.

  1. Metode dramatik atau tidak langsung

Dengan metode dramatik, pembaca dapat menyimpulkan watak tokoh dari pikiran, cakupan, dan perilaku tokoh yang disajikan oleh pengarang di dalam cerpennya, selain itu watak tokoh juga dapat disimpulkan dari penampilan fisik, kesan, tokoh lain terhadap dirinya, serta gambaran hal-hal disekitar tokoh.

2.2.3. Latar

Peristiwa-peristiwa didalam cerpen terjadi pada suatu rentang waktu,

tempat, dan suasana tertentu. Agar disetiap peristiwa dapat dipahami pembaca dengan jelas, pengarang menampilkan latar cerita. Latar tersebut berupa keterangan dan petunjuk yang mengacu pada waktu, tempat, maupun suasana didalam cerpen.

Umumnya, latar sebuah cerpen terdiri atas latar waktu, latar tempat, dan latar suasana. Latar tempat menyatakan lokasi di mana cerita pendek

berlangsung, dan latar waktu menyatakan waktu berlangsungnya cerita.

Sedangkan latar suasana menyatakan suasana yang terungkap dalam cerpen, misalnya, mengharukan, menyedihkan, lucu, mencekam, dan lain sebagainya.

Latar-latar di atas berfungsi untuk memberikan informasi situasi di dalam cerpen dan menggambarkan atau sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh. Selain itu, latar juga berfungsi untuk mendukung serta mengiaskan watak maupun segala hal yang berhubungan dengan tokoh. Sebagai catatan, ada juga yang menambahkan latar sosial di dalam cerpen. Teknik untuk menampilkan latar disebut dengan pelataran. Biasanya ada dua jenis pelataran yang digunakan dalam cerpen, yaitu pelataran sejalan dan pelataran kontras. Pelataran sejalan digunakan jika keadaan lingkungan sama dengan keadaan tokoh. Sebagai contoh, latar yang muram atau mendung untuk mendukung tokoh yang berduka. Pelataran kontras digunakan jika latar tidak senada dengan keadaan tokoh. Sebagai contoh, tokoh menangis sedih di tengah sebuah pesta yang meriah.

Latar (setting) dalam cerpen merupakan salah satu bagian cerpen

yang dianggap sebagai penggerak cerita. Setting (latar) mempengaruhi unsur lain, semisal tema atau penokohan setting tidak hanya menyangkut lokasi dimana para pelaku cerita terlibat sebuah masalah kejadian.

Dalam cerpen yang baik, setting harus benar-benar sebuah syarat

menggarap tema dan karakter cerita. Dari setting wilayah tertentu harus

menghasilkan perwatakan tokoh tertentu, tema tertentu. Kalau sebuah cerpen settingnya dapat diganti dengan tempat mana saja tanpa mengubah atau mempengaruhi waktu tokoh dan tema cerpennya, maka setting demikian pula integral.

Setting pun hendaknya menyatu dengan tema watak dan gaya, maupun kaitan kebijakan cerita yang dapat diambil hikmahnya oleh pembaca cerpen. Latar bisa berarti banyak yaitu tempat tertentu, daerah tertentu, orang-orang tertentu dengan watak-watak tertentu. Akibat situasi lingkungan atau jamannya, cara hidup tertentu, cara berfikir tertentu.

Latar (setting) juga mempunyai pengertian keterangan, baik mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa atau cerita, latar berhubungan erat dengan pelaku (tokoh) dalam suatu peristiwa oleh sebab itu, latar sangat mendukung jalan cerita.

Adapun penggolongan setting dapat dikelompokan dalam setting tempat, setting waktu dan setting sosial (suasana).

a). Setting tempat

Kehadiran setting tempat dalam cerpen bukan tanpa tujuan yang pasti, setting tempat mempengaruhi bagaimana kondisi sang tokoh

diciptakan, secara sederhana setting tempat akan mempengaruhi gaya maupun emosi tokoh dalam berbicara. Contohnya : setting dengan situasi pantai akan berbeda dengan situasi gunung.

b). Setting waktu

Setting waktu menyangkut kapan cerita dalam cerpen terjadi, setting waktu mempengaruhi bagaimana cara tokoh bertindak, hal ini salah satunya dapat ditujukan dengan contoh perbedaan cerita dengan setting yang terjadi zaman tahun 1930an dahulu dengan tahun 2000an. Hal ini dapat diamati dengan cara berbicara tokoh maupun kondisi lingkungan saat itu.

c). Setting sosial atau suasana

Setting sosial yang terjadi pada waktu kejadian didalam cerpen terwakili oleh tokoh.

 

 

2.2.4. Alur/Plot

Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat disusun berdasarkan 3 hal, yaitu :

  1. Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi)
  2. Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal)
  3. Berdasarkan tema cerita.

Adapun struktur alur adalah sebagai berikut :

  1.  Di bagian awal terdiri atas :

1) penjelasan tentang peristiwa awal (exposition),

2). Munculnya masalah.

3). Masalah mulai menjadi konflik.

  1. Di bagian tengah terdiri atas :

4). Pertentangan antara masalah-masalah.

5). Permasalahan menjadi sulit.

6). Puncak permasalahan.

  1. Di bagian akhir terdiri atas.

7). Pemecahan masalah.

8). Penyelesaian cerita.

Dalam pembangun alur, ada beberapa faktor yang perlu di perhatikan agar alur menjadi dinamis. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Faktor kebolehjadian. Maksudnya, peristiwa-peritiwa cerita sebaiknya tidak selalu realistik tetapi masuk akal.
  2. Faktor kejutan. Maksudnya, peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebbak/ dikenali oleh pembaca.
  3. Faktor kebetulan. Maksudnya, peristiwa-peristiwa yang tidak di duga terjadi, secara kebetulan terjadi.

Kombinasi atau variasi ketika faktor tersebutlah yang menyebabkan alur menjadi dinamis.

Adapun hal yang harus di hindari dalam alur adalah lanturan (digresi). Lanturan adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau penyimpang dari pokok persoalan yang sedang di hadapi dalam cerita.

Alur berdasarkan teknik penyampaian cerita dibagi menjadi dua bagian :

  1. Alur maju

Yaitu alur yang urutan peristiwanya berurut mulai dari awal hingga akhir cerita.

  1. Alur mundur (flash back)

Yaitu peristiwa dimulai dari akhir cerita menuju ke awal cerita.

2.2.5. Sudut Pandang

  1. Sudut pandang atau point of  view

Sudut pandang merupakan unsur yang cukup penting dalam membangun sebuah cerpen yang baik. Sudut pandang  merupakan  visi pengarang yang di jelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokohnya demgan cara bercerita. Jadi,sudut pandang  berkaitan sangat erat dengan teknik atau keterampilan bercerita. Secara umum, sudut pandang terbagi menjadi beberapa jenis.

A.Sudut pandang orang pertama.

Pengarang menggunakan kata ganti orang pertama, misal”aku” atau “saya”.

Jadi, pencerita atau narator termasuk tokoh di dalam cerpen.

B.Sudut pandang orang ketiga

Pengarang menggunakan kata ganti orang ketiga misalnya, “ia”, atau “dia”.selain itu,pencerita dapat menyebut langsung nama tokoh-tokoh di dalam cerpen. Jadi, pencerita berada di luar cerita.

Sudut pandang orang ketiga disebut juga sudut pandang mahatahu. Artinya, pencerita mengetahui segala hal yang terdapat di dalam cerita termasuk keadaan batin tokoh. Namun, ada kalanya pencerita hanya sebagai pengamat sehingga penceritaannya terbatas.

C. Sudut pandang campuran

Pengarang menggunakan kata ganti orang pertama dan orang ketiga untuk membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya kadang pengarang menjadi narator, namun kadang pengarang menggunakan tokohnya sebagai narator. Dengan demikian seluruh kejadian dan aktivitas tokoh di beri komentar dan tafsiran sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang di ceritakan.

Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam sebuah cerita apakah pengarang terlibat di dalam cerita tersebut atau apakah pengarang berdiri di luar cerita. Cara pengarang memandang para tokoh meliputi:

  1. Sudut pandang yang maha kuasa adalah pengarang seolah-olah dia maha tahu pengarang ini mengambarkan semua tingkah laku dari pada tokoh-tokoh tersebut dan juga mengerti apa yang dikerjakan oleh tokoh tersebut.
  2. Sudut pandang orang pertama, biasanya menggunakan kata aku.
  3. Sudut pandang orang ketiga : Rani, Toni…(nama tokoh).
  4. Sudut pandang objektif adalah pengarang bertindak seperti dalam sudut pandang yang maha kuasa tetapi pengarang tidak melukiskan batin tokoh-tokoh.

1). Sudut pandang orang pertama (first person point of view)

Dalam persinggahan cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama ‘’aku’’. Nator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ‘’aku’’ tokoh yang berkisah mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang di kertahui, di lihat, di dengar, di alami dan dirasakan, serta sikapnya pada orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang di lihat dan di rasakan.tokoh si ‘’aku’’ tersebut :

Sudut pandang orang pertama masih di bedakan menjadi 2 yaitu :

  1. ‘’aku’’ tokoh utama. Dalam sudut pandang kali ini, si ‘’aku’’ mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku ang di alaminya, baik yang bersifat batiniyah, dalam diri sendiri, maupun fisik, dan hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ‘’aku’’ menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita.
  2. Segala sesuatu yang di luar diri si ‘’aku’’, peristiwa, tindakan, dan orang, di certakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan di ceritakan. Dalam cerita demikian, si ‘’aku’’ menjadi tokoh utama (first person central).
  3. ‘’aku’’ tokoh tambahan. Dalam sudut pandang ini, tokoh ‘’aku’’ muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first person peripheal). Tokoh ‘’aku’’ hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang di kisahkan itu kemudian ‘’dibiarkan’’ untuk mengisahkan sendirisebagai pengalamannya. Tokoh cerita yang di biarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawaka berbagai peristiwa, tindakan, berhubungan dengan tokoh-tokoh lain.
  4.  Setelah cerita tokoh utama habis, si ‘’aku’’ tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian si ‘’aku’’ hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita dan di tokohi oleh orang lain. Si ‘’aku’’ pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.

2). Sudut pandang orang ketiga (third person point of view)

Dalam cerita yang mempergunakan sudut pandang orang ketiga ‘’dia’’. Narrator adalah seorang yang di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita yang menyebut nama, atau kata gantinya : ia, dia, mereka.

Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus, menerus disebut dan sebagai variasi di pergunakan kata ganti.

Sudut pandang ‘’dia’’ dapat di bedakan kedalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya :

  1. ‘’dia’’ mahatahu. Dalam sudut pandang ini, narrator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ‘’dia’’ tersebut. Narrator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bergerak bebas dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindahan-pindahan dari tokoh ‘’dia’’ yang satu ke ‘’dia’’ yang lain, menceritakan atau sebaliknya ‘’menyembunyikan’’ ucapan dan tingkah tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.
  2. ‘’dia’’ terbatas (‘’dia’’ sebagai pengamat). Dalam sudut pandang ini, pengarang mempergunakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas penceritanya, terbatas pengetahuannya (hanya menceritakan apa yang di lihatnya saja).

2.2.6. Amanat

Sebuah cerpen ada kalanya dapat mengetengahkan ajaran moral

ataupun pesan yang ingin disampaikan pengarang. Pesan tersebut

terselip dalam permasalahan yang terdapat dalam cerpen. Amanat

dapat berupa jalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang

dialami oleh tokoh. Amanat dalam cerpen dapat ditampilkan secara

implisit (tersirat) maupun secara ekspisit (tersurat).

Amanat pada cerpen modern yang bersipat hiburan cenderung

sederhana misalnya, pada cerpen-cerpen remaja. Amanat tersebut

kadang sangat tersamar. Akibatnya, pembaca diharapkan dapat

menyimpulkan atau mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan

yang dialami oleh tokoh dalam cerpen. Tentu saja jalan keluar yang

dipilih berdasarkan selera atau kepribadian masing-masing pembaca.

Didalam buku pintar Bahasa dan sastra Indonesia,oleh Dra.

Agoestien S, Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi

persoalan didalam karya sastra. Amanat biasa disebut makna. Makna

dibedakan menjadi makna niatan dan makna muatan. Makna niatan adalah

makna yang diniatkan oleh pengarang bagi karya sastra yang ditulisnya.

Makna muatan adalah makna yang termuat dalam karya sastra tersebut.

Didalam buku bahasa indonesia kelas IX, pengarang berupaya

menyampaikan pesan moral kepada pembaca cerita melalui amanat cerita.

Sedangkan amanat  itu sendiri adalah pesan pengarang yang berisi

pendidikan moral, pesan ini disampaikan dengan pengarang secara

langsung atau secara  tdak langsung. Amanat harus disimpulkan sendiri

oleh pembaca.

Membaca karya sastra seperti cerita pendek memang mengasyikan. Sebuah karya satra yang baik tidak hanya dapat mengasyikan bagi

pembaca tetapi juga mengandung berbagai macam nilai. Salah satu

contohnya adalah nilai pendidikan moral.

Nilai Pendidikan moral adalah ajaran-ajaran atau patokan-patokan tentang bagaimana manusia harus bertindak agar menjadi manusia yang baik. Sedangkan nilai adalah segala sesuatu yang dianggap baik atau dianggap buruk oleh manusia.

Nilai digambarkan pengarang melalui dilog para tokoh, narasi (penjelasan pengarang), atau tindakan para tokoh.

Terdapat pula pada buku Bahasa Indonesia kelas XI oleh E.K.

Djuharmi M.pd, Amanat mengandung hal yang mengandung hal yang

berharga yang dapat kita petik, disebut juga dengan nilai. Nilai berkenaan

dengan sesuatu yang berharga atau bermanfaat. Karya sastra dinyatakan bernilai apabila memberikan manfaat bagi pembacanya. Nilai yang

berharga dalam cerita pendek juga berupa amanat. Amanat itu Mungkin

berupa :

v Nilai Ketuhanan (Religius) : Taat beragama.

v Nilai Kemanusiaan.

v Nilai Moral : Ajaran/Pendidikan kesusilaan, budi pekerti yang baik, adat, sopan, dan lain-lain yang dapat diambil dalam cerita/sejarah/cerpen.

v Nilai Kasih sayang kepada keluarga.

v Nilai Sosial Budaya : Hasil cipta, rasa, Karsa.

Cara mereflesikan nilai-nilai moral, sosial, religius, budaya dalam kehidupan nyata :

  1. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang menyangkut hubungan dengan sekitarnya, didasari lebih banyak karena unsur hiburannya saja bukan pada kebutuhan vital.
  2. Karya sastra yang baik akan memberikan sumbangsih berupa pola-pola berfikir dalam mengarungi hidup dan kehidupan.
  3. Karya sastra yang baik akan membentuk pola-pola dalam diri yang akhirnya akhirnya dapat membantu mereflesikan nilai-nilai kehidupan.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1.“TENTANG SEBUAH NAMA”

Karya : Benny Ramdhani

Langkah Maya kian cepat menapaki tangga menuju kelasnya begitu mendengar bel tanda istirahat usai. Ia tak ingin Bu Nurky masuk kelas sebelum dirinya. Selain itu, ia harus menyempatkan diri menginterogasi Wulan.
“Heh, kemana aja kamu selama istirahat?” Maya langsung sewot karena Wulan ternyata sudah duduk di bangkunya.
Wulan cuma tersenyum.
“Di kantin anak-anak pada nanyain. Dodo nagih novel silat yang kamu pinjem, Idang nagih sebotol Fanta lantaran kamu kalah taruhan atas pertandingan bola semalam di teve, terus… aduh siapa lagi ya? Heh, malah cengengesan!”
“Lagian elo kok mau-maunya ngapalin pesen orang. Biar aja mereka nagih langsung,” timpal Wulan.
“Begitu ya? Terus kemana aja kamu selama dua hari ini setiap bunya bel istirahat kamu langsung ngilang?”
“Ke perpustakaan.”
Maya terbelalak. “Apa nggak salah tuh? Di sana kan seumur-umur nggak akan kamu temuin novel silat, Wul! Kapan kamu terakhir minum obat sih?”
“Lho, memangnya perpustakaan cuma buat baca-baca. Nggak….”
“Terus ngobrol dengan cowok? Hayo siapa dia?”
Wulan merasa dirinya terancam. Diliriknya pintu kelas. Aduh, moga-moga Bu Nurky cepat datang. Nah, benar kan. “Ssst, Bu Nurky dateng tuh!” bisik Wulan buru-buru.
Maya kesal. Mulutnya komat-kamit tanpa suara. Ia belum puas kalau pertanyaannya tak dijawab. Apalagi agaknya dugaannya kali ini benar. Ya, soal cowok. Ia bisa menangkapnya dari sorot mata Wulan. Oh, ini benar-benar berita. Si Iwul alias Wulan alias Rembulan Giargina sedang jatuh cinta. Tapi… berita itu belum cukup informasinya tanpa diketahui siapa cowok yang ditaksir Wulan. Akan kuselidiki, biar tahu rasa Wulan. Hehehe….
“Maya, kenapa kamu cengar-cengir? Kamu ngetawain baju baru Ibu, ya?” Bu Nurky di depat sewot begitu melihat mimik muka Maya. Ia memang selalu mengawasi dua gadis badung di kelas ini.
“Nggak kok, Bu. Baju Ibu bagus. Ngomong-ngomong beli di Tanah Abang ya, Bu? Abis mirip dengan punya tetangga saya.”
“Sembarangan kamu!” Bu Nurky menghardik. Mukanya pucat. Ia bingung karena sudah lima orang menebak dengan jitu di mana ia membeli baju itu. Karena kesal, ia langsung menyuruh murid-muridnya ulangan mendadak. Biar tau rasa!
Tapi Wulan nggak protes seperti biasanya. Malah tumben-tumbennya ia mengumpulkan lebih dulu kertas ulangannya tanpa lebih dulu menyebarkan ke teman-teman cowok di sekitarnya. Maya gemas karena ia baru mengisi separuh soal di depannya.
Sampai bel bubar pelajaran sosiologi, Maya cuma menjawab empat soal essay dari sepuluh yang diberikan. Pelajaran berikutnya, ia sama sekali nggak menegur Wulan.
Begitu bel pulang berbunyi Maya langsung keluar lebih dulu. Ia mengambil tempat untuk menguntit Wulan. Diperhatikannya sobatnya yang berambut ala vokalis Roxette itu berjalan ke depan laboratorium kimia. Heh, mau apa anak sosial ke sana? Lima menit kemudian dari dalam laboratorium ke luar para penghuninya. Wulan dihampiri seorang cowok cakep. Maya tak begitu kenal dengannya karena ia yakin cowok itu jarang nongkrong di kantin, jarang menyentuh lapangan basket, dan… bukankah dia Ibnu. Cowok yang suka disebut-sebut teman-teman cewek di kelasnya karena wajahnya yang menggemaskan kayak bayi.
Jadi Wulan naksir Ibnu?
Maya buru-buru berbalik menuju ke kantin. Beberapa sobat kentalnya seperti biasa masih nongkrong di sana mengganggu anak-anak kelas satu. “Heh, dengar nih aku punya berita penting. Aku tahu sekarang kenapa si Iwul jadi lain. Dia ternyata lagi kasmaran dengan Ibnu, anak fisika itu,” Maya langsung bertetetoet.
“Yang benar, nggak mungkin Iwul naksir Ibnu. Maksud gue Ibnu kan cowok….”
“Don, jangan gitu sama teman. Tomboi-tomboi juga Wulan masih normal, kok!” bela Maya.
“Dengan penampilannya yang macam gitu? Gue rasa semua orang sependapat dengan gue,” timpal Dodong. Yang lain langsung manggut.
“Gue pikir malah dia pacaran sama elo,” timpal Ijul.
“Kalian benar-benar keterlaluan!”
“Bukan gitu. Kalau tahu Iwul masih selera dengan cowok, dari dulu udah gue pacarin,” tambah Ijul.
Maya memonyongkan mulutnya. Ia berbalik karena respon yang diharapkan dari teman-tamannya berbeda. Dalam kendaraan Maya jadi memikirkan Wulan. Kalimat yang dilontarkan teman-temannya soal Wulan jadi pikirannya.
Wulan memang tomboi. Bukan cuma dari dandannya, tapi juga perilakunya. Cewek itu cuma punya teman cewek Maya, selebihnya lelaki. Wulan lebih suka nongkrong di kantin sekolah atau ke lapangan basket daripada ngerumpi dengan teman-teman sejenisnya. Wulan nggak suka majalah cewek. Suaranya berat dengan tawa yang terbahak. Terkadang malah Maya lupa kalau teman jahilnya itu bukan cewek.
Tapi Maya tahu benar Wulan masih normal, nggak seperti yang dituding teman-temannya.

***

Esok harinya, cerita Wulan dan Ibnu jadi berita utama di SMA VIT. Entah siapa yang menyebarluaskan, dan lebih parah lagi menambah-nambahkan. Semuanya menyudutkan Wulan. Maya mengerti kalau kalimat nyinyir itu keluar dari para rival Wulan.
“Gimana bisa si Wulan pacaran dengan Ibnu? Dia kan nggak beres.”
“Alaa, paling buat nutupin kenggakberesannnya.”
“Tapi kok Ibnu mau, yah?”
“Semodern-modernnya dunia, dukun masih banyak, Non!”
Maya cuma menelan ludah mendengar mulut-mulut usil itu di tangga sekolah. Wulan juga pasti mendengar omongan usil itu. Mudah-mudahan ia nggak ngamuk.
Di dalam kelas raut muka Wulan nggak terlihat kisruh.
“Kamu udah dengar omongan orang di luar, Wul?”
Wulan mengangguk. “Biar aja, kafilah akan tetap berlalu meski anjing menggonggong.”
“Kamu nggak bisa cuek gitu, Wul. Kalau kamu memang serius dengannya kamu harus perhatikan itu.”
“Maksud elo, gue harus ngehajar mereka?”
“Bukan mereka, tapi kamu. Kamu harus mulai sedikit memperhatikan dirimu sendiri. Sori yah, Wul, terutama perilaku dan penampilanmu. Setelah aku pikir-pikir, ada salahnya juga mengabaikan omongan orang, terutama yang bernada kritis,” papar Maya.
Wulan mendelik. “Kok elo jadi serius gini, May?”
“Aku cuma membayangkan kalau hal ini aku yang mengalaminya. Betapa sakitnya pasti. Apalagi kalau tudingan itu datang dari mulut teman-teman kita.”
“Tudingan apa?”
“Bahwa kamu… mustahil menyukai cowok….”
Wulan terbelalak. “Gue belum denger yang itu. Siapa yang ngomong gitu? Biar gue hajar!”
“Tuh kan, kalau kamu begitu orang makin curiga. Seperti yang aku bilang, ada baiknya kalau kamu yang melakukan perubahan.”
Wulan mendengus. “Elo yakin ini akan berhasil?”
“Tentu aja. Dan aku yakin Ibnu akan makin menyukaimu. Kamu serius kan dengannya?”
Wulan tersenyum. Maya sudah tiga kali gonta-ganti cowok, ia pasti tahu jawabannya.
***

Wulan akhirnya menyadari juga kalimat Maya. Ia memang nggak bisa terlampau mengacuhkan kata-kata orang. Bahwa orang menilai orang lain dari kulitnya memang selalu terjadi di mana-mana. Dan nggak ingin hal itu sampai berlarut-larut. Bagaimana kalau sampai terdengar ke telinga Mamanya tudingan-tudingan itu.
Wulan melakukan perubahan, kendati perlahan tapi amat terasa. Hari pertama ia mulai menjauhi berlama-lama di kantin, kemudian mengurangi tawanya, berikutnya ia membuat tatanan rambutnya lebih modis dan seterusnya. Sejauh ini, Ibnu memberi respon positif.
“Kamu tambah cantik, Wul!” puji Ibnu pada hari ketujuh mereka pacaran. Mereka merayakannya di KFC sepulang sekolah.
Wulan tersipu.
“Nanti malam aku mau ngajak kamu ke rumahku. Aku ingin mengenalkanmu pada orang rumah.”
“Sungguh? Secepat ini?”
Ibnu mengangguk. Bulu halus di atas bibirnya membuat pesona sendiri buat Wulan. Tapi sedetik kemudian ada perubahan di mukanya. Wulan menangkap sebuah kegelisahan pada Ibnu. Sebelum Wulan sempat menanyakan sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.
“Eh, di sini rupanya,” cowok yang umur sekitar tiga tahun di atasnya itu menyapa Ibnu.
“Iya. Ngg… kenalin. Ini kakak sepupuku, Raka. Ini Wulan….”
“Pacar baru Ibnu,” tambah Wulan.
“Sori nih keburu-buru. Ibnu, tolong bilang sama nyokap, aku di rumah sepanjang hari ini.” Raka langsung pergi tanpa menunggu kalimat lagi dari Ibnu dan Wulan.
Wulan tak peduli. Mungkin ia terburu-buru. Wulan melirik Ibnu. Cowok itu agaknya masih gelisah. Kenapa?
“Aku harus buru-buru pulang, Wul. Nggak apa-apa, kan?”
Wulan mengangguk. Mereka meninggalkan KFC. Setelah Ibnu mengantarnya sampai depan rumah. Wulan buru-buru masuk ke kamar. Pikirannya langsung tertuju pada persiapan untuk acara nanti malam.
Gue nggak mau mengecewakan Ibnu, Wulan membatin.

***

Ibnu mengangkat mukanya. Wajah Raka di depannya masih datar belum ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Ibnu berharap hal ini akan segera beres.
“Jadi elo ngedeketin Wulan cuma buat pura-pura. Untuk nutupin keadaan elo di mata Mama sama Papamu. Emangnya nggak kepikiran ujungnya nanti. Gimana kalau Wulan ternyata benar-benar mencintaimu?”
“Tadinya Ibnu nggak berpikir sampai ke situ. Kirain, Wulan… sama seperti kita. Penampilan dan perilaku dia selama ini sudah Ibnu amatin, makanya Ibnu berani deketin dia. Tapi setelah dideketin, baru ketahuan dia ternyata normal. Rencana untuk berkompromi dengannya gagal, tapi Ibnu masih ngebutuhin dia untuk menutupi kecurigaan orang rumah.” Ibnu mengingat bagaimana kata-kata nyinyir Mama ketika menemukan foto Raka di dompetnya. Untung saat itu Ibnu bisa berdusta.
“Terserah. Gue sebenarnya seneng-seneng aja kalo elo memang bisa sungguh-sungguh bisa mencintainya. Bercinta dengan normal. Nggak seperti hubungan kita saat ini. Tapi bukan dengan kepura-puraan yang melibatkan perasaan orang lain,” Raka berusaha berbicara sedewasa mungkin. Ia sendiri sebenarnya sudah menguntit Ibnu beberapa hari ini. Dan betapa kagetnya ia ketika tahu Ibnu—yang bukan saudara sepupunya itu—tengah berusaha menggaet seorang cewek di sekolahnya. Ada perasaan cemburu bergelora.
Ibnu tersedak. Ia nggak mau ditinggal Raka, seseorang yang memberikan kasih yang diimpikannya. Nggak mau kendati ia tahu hal itu nggak wajar. Dan Wulan, belum benar-benar mampu singgah di hatinya.
“Lakukanlah yang menurutmu terbaik saat ini juga,” kata Raka sambil menunjuk HP di dekat Ibnu.
Tanpa ragu Ibnu menelepon Wulan.
“Halo, Ibnu! Udah siap, nih. Kapan gue dijemput?”
“Wulan… aku harus bilang… aku nggak jadi mengajakmu ke rumah. Dan mengenai hubungan kita… sebaiknya berakhir sampai di sini aja.” Ibnu sadar kalimatnya akan menyakiti hati Wulan. Tapi biar gimana juga ia harus mengatakannya. Lebih cepat lebih baik bagi Wulan dan dirinya.
“Ibnu, elo nggak bercanda, kan? Ini… ini terlalu singkat. Kenapa, Ibnu? Ada yang salah dengan gue?”
“Bukan… bukan kamu yang salah. Aku yang salah. Tapi aku belum bisa ngomong sekarang. Aku belum siap….”
Wulan mematikan HP-nya. Berjam-jam ia nggak sabar nunggui datangnya malam, dan ketika saatnya datang justru kabar buruk yang ia terima. Wulan menengadahkan kepalanya memandang langit dari jendela kamar. Rembulan termangu di atas sana. Wulan benar-benar belum siap untuk patah hati.

 

3.2.ANALISIS UNSUR INTRINSIK DALAM CERITA PENDEK ”TENTANG SEBUAH NAMA”  KARYA : BENNY RAMDHANI

3.2.1.ANALISIS TEMA

          Setelah penulis melakukan Analisis Tema terhadap cerpen yang berjudul”Tentang Sebuah Nama”karya:”Benny Ramdhanid”.Dengan mengambil persoalan yang ada dalam cerpen tersebut sebagai gambaran terhadap tema yang disampaikan oleh pengarang,maka penulis mengemukakan beberapa persoalan yang terdapat sebagai berikut :

1) Maya Mengetahui Bahwa Wulan Naksir Ibnu

    Begitu bel pulang berbunyi Maya langsung keluar lebih dulu. Ia mengambil tempat untuk menguntit Wulan. Diperhatikannya sobatnya yang berambut ala vokalis Roxette itu berjalan ke depan laboratorium kimia. Heh, mau apa anak sosial ke sana? Lima menit kemudian dari dalam laboratorium ke luar para penghuninya. Wulan dihampiri seorang cowok cakep. Maya tak begitu kenal dengannya karena ia yakin cowok itu jarang nongkrong di kantin, jarang menyentuh lapangan basket, dan… bukankah dia Ibnu. Cowok yang suka disebut-sebut teman-teman cewek di kelasnya karena wajahnya yang menggemaskan kayak bayi.
Jadi Wulan naksir Ibnu.

2) Wulan Mengikuti Saran Maya an Mulai Melakukan Perubahan

Wulan akhirnya menyadari juga kalimat Maya. Ia memang nggak bisa terlampau mengacuhkan kata-kata orang. Bahwa orang menilai orang lain dari kulitnya memang selalu terjadi di mana-mana. Dan nggak ingin hal itu sampai berlarut-larut. Bagaimana kalau sampai terdengar ke telinga Mamanya tudingan-tudingan itu.
Wulan melakukan perubahan, kendati perlahan tapi amat terasa. Hari pertama ia mulai menjauhi berlama-lama di kantin, kemudian mengurangi tawanya, berikutnya ia membuat tatanan rambutnya lebih modis dan seterusnya.Sejauh ini Ibnu memberi respon positif.”kamu tambah cantik, Wul!” puji Ibnu pada hari ketujuh mereka pacaran.

3) Wulan Menangkap Kegelisahan Pada Ibnu
“Nanti malam aku mau ngajak kamu ke rumahku. Aku ingin mengenalkanmu pada orang rumah.”
“Sungguh? Secepat ini?”
Ibnu mengangguk. Bulu halus di atas bibirnya membuat pesona sendiri buat Wulan. Tapi sedetik kemudian ada perubahan di mukanya. Wulan menangkap sebuah kegelisahan pada Ibnu. Sebelum Wulan sempat menanyakan sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.
“Eh, di sini rupanya,” cowok yang umur sekitar tiga tahun di atasnya itu menyapa Ibnu.
“Iya. Ngg… kenalin. Ini kakak sepupuku, Raka. Ini Wulan….”
“Pacar baru Ibnu,” tambah Wulan.
“Sori nih keburu-buru. Ibnu, tolong bilang sama nyokap, aku di rumah sepanjang hari ini.” Raka langsung pergi tanpa menunggu kalimat lagi dari Ibnu dan Wulan.
Wulan tak peduli. Mungkin ia terburu-buru. Wulan melirik Ibnu. Cowok itu agaknya masih gelisah. Kenapa?
“Aku harus buru-buru pulang, Wul. Nggak apa-apa, kan?”
Wulan mengangguk. Mereka meninggalkan KFC. Setelah Ibnu mengantarnya sampai depan rumah.

4) Ibnu Putus Dengan Wulan

Ibnu mengangkat mukanya. Wajah Raka di depannya masih datar belum ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Ibnu berharap hal ini akan segera beres.
“Jadi elo ngedeketin Wulan cuma buat pura-pura. Untuk nutupin keadaan elo di mata Mama sama Papamu. Emangnya nggak kepikiran ujungnya nanti. Gimana kalau Wulan ternyata benar-benar mencintaimu?”
“Tadinya Ibnu nggak berpikir sampai ke situ. Kirain, Wulan… sama seperti kita. Penampilan dan perilaku dia selama ini sudah Ibnu amatin, makanya Ibnu berani deketin dia. Tapi setelah dideketin, baru ketahuan dia ternyata normal. Rencana untuk berkompromi dengannya gagal, tapi Ibnu masih ngebutuhin dia untuk menutupi kecurigaan orang rumah.” Ibnu mengingat bagaimana kata-kata nyinyir Mama ketika menemukan foto Raka di dompetnya. Untung saat itu Ibnu bisa berdusta.
“Terserah. Gue sebenarnya seneng-seneng aja kalo elo memang bisa sungguh-sungguh bisa mencintainya. Bercinta dengan normal. Nggak seperti hubungan kita saat ini. Tapi bukan dengan kepura-puraan yang melibatkan perasaan orang lain,” Raka berusaha berbicara sedewasa mungkin. Ia sendiri sebenarnya sudah menguntit Ibnu beberapa hari ini. Dan betapa kagetnya ia ketika tahu Ibnu yang bukan saudara sepupunya itu tengah berusaha menggaet seorang cewek di sekolahnya. Ada perasaan cemburu bergelora.
Ibnu tersedak. Ia nggak mau ditinggal Raka, seseorang yang memberikan kasih yang diimpikannya. Nggak mau kendati ia tahu hal itu nggak wajar. Dan Wulan, belum benar-benar mampu singgah di hatinya.
“Lakukanlah yang menurutmu terbaik saat ini juga,” kata Raka sambil menunjuk HP di dekat Ibnu.
Tanpa ragu Ibnu menelepon Wulan.
“Halo, Ibnu! Udah siap, nih. Kapan gue dijemput?”
“Wulan… aku harus bilang… aku nggak jadi mengajakmu ke rumah. Dan mengenai hubungan kita… sebaiknya berakhir sampai di sini aja.” Ibnu sadar kalimatnya akan menyakiti hati Wulan. Tapi biar gimana juga ia harus mengatakannya. Lebih cepat lebih baik bagi Wulan dan dirinya.
“Ibnu, elo nggak bercanda, kan? Ini… ini terlalu singkat. Kenapa, Ibnu? Ada yang salah dengan gue?”
“Bukan… bukan kamu yang salah. Aku yang salah. Tapi aku belum bisa ngomong sekarang. Aku belum siap….”
Wulan mematikan HP-nya. Berjam-jam ia nggak sabar nunggui datangnya malam, dan ketika saatnya datang justru kabar buruk yang ia terima. Wulan menengadahkan kepalanya memandang langit dari jendela kamar. Rembulan termangu di atas sana. Wulan benar-benar belum siap untuk patah hati.

BAB IV

PENUTUP

4.1.Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat penulis sampaikan berdasarkan penelitian mendalam dari cerita pendek yang berjudul “TENTANG SEBUAH NAMA”karya ”Benny Ramdhani” dan ada beberapa hal yang perlu diingat, antara lain:

1.Kita tidak boleh menuduh orang sebelum mengetahui permasalahan yang sebenarnya.

2.kita tidak boleh melibatkan perasaan orang lain dalam permasalahan kita.

Akhirnya diharapkan agar kita dapat mengembangkan lebih lanjut apa yang kita peroleh dengan mempelajari dan memahami isi dalam cerpen tersebut.

4.2.SARAN

Setelah penulis memaparkan keseluruhan tentang ANALISIS UNSUR INTRISIK DALAM CERITA PENDEK “TENTANG SEBUAH NAMA” karya BENNY RAMDHANY, maka penulis ingin menyampaikan beberapa saran bagi pembaca  antara lain :

  1. Bahwa membuat karya tulis ilmiah itu adalah bukan sesuatu yang sulit untuk siapa saja terutama dalam kalangan pelajar.
  2. Biasakanlah membaca cerita pendek karena dapat mengetahui dunia luar.
  3. Dengan membuat karya tulis ilmiah kreatifitas kita dapat berkembang.
  4. Berdasarkan analisis amanat yang disampaikan oleh pengarang yaitu berupa nilai kemanusiaan, nilai moral dan nilai kasih sayang kepada keluarga memberikan contoh kepada kita untuk dapat kita jadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan.

Demikian saran yang dapat penulis sampaikan semoga bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Sutopo, Maryati. 2008. Bahasa dan sastra Indonesia kelas VII. Bandung :

Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

…………………….. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia 3 untuk SMP/MTs

kelas IX. Bandung : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan

Nasional.

…………………….. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs

kelas VIII. Bandung : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan

Nasional.

——————- 2005. Materi pelajaran Integrasi Bahasa dan Sastra

Indonesia buku 3. Jakarta : Departemen pendidikan nasional,

direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah, direktorat pendidikan lanjutan pertama.

——————- 2005. Bahan penyerta siaran televisi edukasi untuk guru

SMP/MTs kelas III semester 1. Jakarta : Departemen pendidikan

nasional, pusat Teknologi Informasi dan komunikasi pendidikan

lanjutan pertama.

Wirajaya,Yudha Asep. 2008. Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk

SMP/MTs kelas IX. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen

Pendidikan Nasional.

E. K. Djurharmie. 2005. Bahasa Indonesia untuk SMA kelas XI. Bandung

: CV REGINA Anggota IKAPI-JABAR.

Pranoto Naning. 2009. Buku creative writing, jurus menulis cerita pendek.

Jakarta : Rayakultura.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s